Jadi Museum Tertua, Ini Sejarah Radya Pustaka
![]() |
| Museum Radya Pustaka. ©2022 sukabaca.com |
Sukabaca.com-
Museum lovers, ada sdikit info nih tenang Museum Radya Pustaka yang berada di
Surakarta. Museum ini tertua di Indonesia yang berdiri sejak 28 Oktober 1890
oleh Patih Dalem K.R.A Sosrodiningrat IV dengan nama Paheman Radya Pustaka.
Atas ijin sang pendiri
serta berkenannya Sinuhun Pakubuwono X, museum berpindah ke Loji Kadipolo milik
Yohanes Buselaar seorang saudagar Belanda. Hingga saat ini disebut Museum Radya
Pustaka.
Dari dulu sampai
sekarang, bangunan museum hampir tidak banyak berubah. Gedung derngan gaya
arsitektur Belanda masih dipertahankan. Bahkan perpaduan warna khas ala ktaron
yaitu putih, biru tua dan kuning emas, masih menjadi ciri khas museum ini.
SEJARAH
Terletak di Jalan Slamet
Riyadi, tidak jauh dari Taman Sriwedari, terdapat sebuah bangunan yang menjadi
bukti pentingnya pengarsipan bagi masyarakat Solo. Terletak satu kompleks
dengan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, bangunan yang sekarang menjadi museum
sebelumnya merupakan kediaman seorang warga negara Belanda yang bernama
Johannes Busselaar. Karenanya, museum ini pun memiliki nama lain yaitu Loji
Kadipolo.
Secara etimologi, “Radya”
berarti pemerintah, sementara “Pustaka” berarti surat. Tempat ini dulunya
merupakan tempat penyimpanan surat-surat kerajaan. Seiring berjalannya waktu,
yang disimpan di dalam tempat ini tidak hanya surat, tapi juga berbagai benda penting
yang berhubungan dengan kerajaan. Dan semakin lama, seiring semakin
bertambahnya koleksi yang dimiliki, tempat ini pun menjadi museum.
Karena sebelumnya merupakan rumah hunian, tata ruang
museum ini pun tidak seperti museum pada umumnya. Bentuk bangunan asli tetap
dipertahankan, dengan hanya mengubah beberapa bagian, seperti menghilangkan
kamar mandi untuk mendapatkan ruang pamer yang lebih luas.
Di bagian halaman museum, terdapat patung Rangga
Warsita, seorang pujangga besar yang hidup di Surakarta pada abad 19. Masuk ke
dalam bangunan, ruang pertama yang dijumpai adalah ruang yang menyimpan
berbagai jenis wayang. Tidak hanya berbagai jenis wayang dari dalam negeri,
seperti Wayang Purwa, Wayang Gadog, Wayang Madya, Wayang Klithik, Wayang Sukat, dan Wayang Beber,
berbagai wayang dari luar negeri pun menjadi bagian koleksi yang ditampilkan di
ruang ini. Misalnya saja Wayang Nang dari Thailand.
Beralih ke ruang berikutnya, yaitu Ruang Tosan
Aji atau ruang logam berharga. Di ruang ini, dipamerkan
berbagai senjata yang terbuat dari logam, arca, serta miniatur-miniatur rumah
joglo, rumah asli Jawa Tengah. Berlanjut ke ruang berikutnya yang menyimpan
berbagai jenis keramik. Tapi, sebelum masuk ke ruang ketiga, di antara ruang
kedua dan ketiga, dapat dilihat sebuah orgel atau kotak
musik. Orgel ini merupakan hadiah yang
diberikan Napoleon Bonaparte kepada Paku Buwana IV (1788-1820).
Di ruang ketiga, tersimpan berbagai jenis keramik.
Mayoritas keramik yang disimpan di ruang ini merupakan peninggalan masa penjajahan
Belanda. Pada salah satu dinding ruang ini, dipajang aneka piring sewon.
Piring sewon merupakan piring yang khusus dibuat untuk memperingati 1.000 hari
meninggalnya seseorang, biasanya anggota kerajaan.
Ruang keempat adalah perpustakaan. Buku-buku yang
menjadi koleksi perpustakaan di sini mayoritas berbahasa Belanda dan Jawa,
meski ada sebagian kecil koleksi yang berbahasa Indonesia. Buku-buku di sini
tertata dengan rapi dan cukup terawat. Semua koleksi yang ada di perpustakaan
ini hanya boleh dibaca di dalam ruang perpustakaan.
Sebelum menuju ruang kelima, di depan ruang keempat,
terdapat patung Johannes Albertus Wilkens. Dia merupakan seorang ahli bahasa
yang membuat kamus Jawa-Belanda. Sayang, karyanya tidak dapat ditemukan di
museum ini.
Ruang kelima merupakan ruang yang menyimpan berbagai
koleksi yang dibuat dari bahan perunggu, seperti patung dan gamelan. Sementara,
ruang keenam merupakan Ruang Etno. Di ruang yang paling luas ini, tersimpan
gamelan agung milik Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV.
Selain itu, ada pula alat tenun tradisional dan gamelan genderan yakni
satu set gamelan yang dirangkai menjadi seperti meja dan dapat dimainkan oleh
satu orang yang merupakan sumbangan seorang anggota keluarga keraton.
Ruang ketujuh adalah Ruang Rojomolo. Rojomolo adalah
sosok raksasa penguasa laut. Patung ini merupakan karya Pakubuwono V. Patung
Rajamala merupakan hiasan bagian depan perahu yang digunakan untuk menjemput
permaisuri Pakubuwono IV. Di bagian belakang, ruang terakhir, terdapat maket
makam raja-raja Imogiri serta berbagai arca.
Pada tahun 2006, museum ini sempat menjadi pemberitaan
karena sebagian koleksinya hilang. Koleksi yang asli telah ditukar dengan
replika. Setelah melalui pencarian, sebagian dari koleksi yang hilang dapat
ditemukan. Sebagian koleksi yang ada di museum ini pun merupakan replika, yang
ditandai dengan keterangan khusus.
RUANG DEPAN
Koridor yang memiliki ruangan di sisi kanan dan kiri dengan berbagai koleksi sejarah di dalamnya. Ruang Tosanaji terdapat koleksi tosanaji yang berasal dari Jawa, Bali, Madura dan Sumatra. Ruang Keranik berisi koleksi kramik peningalan masa colonial Belanda. Ruang Perunggu berisi koleksi benda benda perunggu dari abad 7-8M. Ruang Manuskrip tersimpan kurang lebih 400an menuksrip berupa buku kuno dengan tulisan tangan aksara jawa.
![]() |
| Patung Sosrodiningrat IV, pendiri museum radya pustaka |
![]() |
| ruang gamelan, radya pustaka |
RUANG TENGAH. Pada ruangan tengah terdapat koleksi karya seni dan benda-benda kebutuhan sehari-hari para bangsawan serta raja tersimpan di sini. Di ruangan ini juga terdapat deretan koleksi wayang kulit & satu set Gamelan Ageng Radya Pustaka milik K.R.A. Sosrodiningrat IV. Canthik Rajamala di percaya kehadirannya mampu memberikan keselamatan & menangkal mara bahaya ketika digunakan.
Hiasan haluan perahu pesiar istana ini, dibuat putra mahkota PB IV Raden Mas Sugandhi (K.G.P.A.A. Mangkunagoro III) dimasa pemerintahan PB IV (1788-1820).
RUANG BELAKANG
![]() |
| Ruang belakang museum, 7 januari 2023. |
Pada ruangan belakang ini digunakan untuk menyimpan koleksi miniatur, busana adat Jawa, & Gambar-gambar Pawukon. Terdapat berbagai miniatur yang ada di ruangan ini. Diantaranya Miniatur Makam Imogiri, Miniatur Masjid Agung Demak, Miniatur Panggung Sangga Buwana & lainnya. Pawukon adalah suatu perhitungan tradisional Jawa yang populer di masyarakat agraris, terutama wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta berdasarkan sistem penanggalan tradisional Jawa. Museum Radya Pustaka memiliki perpustakaan yang dibuka untuk umum dengan koleksi buku yang beragam. Terdapat ratusan koleksi buku, baik dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing.
JALAN PINTU KELUAR
![]() |
| Arca disepanjang jalan keluar museum, 7 Januari 2023. |
Saat melewati pintu
keluar terdapat Ruang Arca. Di sini dapat menemui berbagai koleksi dari abad ke
VII di masa pemerintahan Hindu-Budha. Kebanyakan arca yang ada berasal dari
Candi Prambanan & sekitaran Kota Surakarta. Arca batu merupakan peninggalan
sejarah yang menarik untuk dikaji. Keberadaannya menjadi saksi bisu & bukti
kemajuan peradaban dimasanya.
CARA MENJAGA EKSISTENSI
MUSEUM
Museum Radya Pustaka
menyimpan ratusan koleksi naskah kuno yang umurnya sudah ratusan tahun. Koleksi naskah kuno tersebut
sebagian besar sudah rusak, rapuh fisiknya, dan hancur akibat dimakan kutu.
Sebagai upaya untuk melestarikan naskah kuno yang ada, digitalisasi menjadi
salah satu pilihan yang dapat dilakukan oleh musem.
”Upaya yang dilakukan
Museum Radya Pustaka salah satunya adalah mengalihmediakan koleksi naskah dalam
bentuk digital. Hal ini juga agar masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah
dan cepat,” Ungkap Fitri salah satu Tour Guide yang ditemui Sabtu (07/01/2023)
Cara mempertahankan eksistensi
museum ini dengan mengikuti perkembangan zaman, naskah kuno mulai digitalisasi,
dan untuk penjelasan peninggalannya terdapat barcode disetiap ruangannya, namun
dibatasi agar pengunjung memiliki rasa ingin tau yang tinggi untuk membaca buku
di perpustakaan yang disediakan.
![]() |
Ruang depan museum/tour guide/pengunjung, 7 januari 2023 |
Museum ini sangat memikat
bagi para wisatawan karena koleksi dan fasilitas yang disediakan pihak
pengelola, jika ingin mengunjungi museum ini dapat melihat jadwal buka dari
radya Pustaka mulai dari hari selasa-minggu buka jam 09.00-15.00 WIB, kecuali
untuk hari Jumat akan tutup jam 11.00.
“Museum ini terlihat
bersih dan rapi dengan aksen jaman Belandanya yang masih sangat mencolok, anak
saya suka melihat topeng dan wayang sejarah jaman dulu. Bagus dan sangat
rekomended untuk dikunjungi apalagi dengan tiket gratis,” ungkap Yanti, pengunjung
siang itu.






wahh blog ini sangat membantu bgt kak
BalasHapus